Jumat, 17 April 2015

HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DAN PSIKOLOGI

FILSAFAT MANUSIA
“Hubungan Filsafat Ilmu dan Psikologi”


Pendahuluan
Psikologi dan filsafat  memanglah dua disiplin ilmu yang berbeda, namun sebenarnya kedua disiplin ilmu ini tidak dapat dipisahkan. Karena psikologi sendiri merupakan bagian dari filsafat. Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah ilmu Filsafat. Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat, dan filsafat merupakan satu-satunya ilmu pada waktu itu. Oleh karena itu, ilmu-ilmu yang tergabung dalam filsafat akan dipengaruhi oleh sifat-sifat dari filsafat, demikian pula halnya dengan  psikologi.
Lama-kelamaan, disadari bahwa filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Disadari bahwa hal-hal yang berhubungan  dengan kehidupan tidak cukup lagi hanya diterangkan dengan filsafat. Pada saat  psikologi masih tergabung dengan filsafat, dasar pemikirannya sejalan dengan  pemikiran  perkembagan ilmu pengetahuan di jaman sebelum Renaissance, yaitu, jaman Yunani Kuno dan jaman pertengahan. Lama-kelamaan, disadari bahwa filsafat  sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia.  Sejak awal  pertumbuhan hingga pertengahan abad ke-19, psikologi lebih banyak dikembangkan oleh para pemikir dan ahli filsafat, yang kurang melandasi pengamatannya pada  fakta kongkrit. Mereka lebih mempercayai pemikiran filsafat dan pertimbangan- pertimbangan abstrak serta spekulatif. Teori-teori yang mereka ciptakan lebih  banyak didasarkan pada pengalaman pribadi dan pengertian sepintas lalu. Oleh  karena itu, dapat dimengerti bahwa psikologi pada waktu itu kurang dapat dipercaya  kebenarannya. Dalam perkembangan psikologi selanjutnya, dirasakan perlunya  penggunaan metode lain, untuk menjamin obyektifitasnya sebagai ilmu, yaitu menggunakan metode “empiris”. Metode empiris menyandarkan diri pada : pengalaman, pengamatan, dan eksperimen/percobaan (empiris, empiria, yang berarti pengalaman dan pengamatan) (Ahmadi, 1998:52), dimana hal ini sejalan dengan penemuan ilmu pengetahuan modern yang sudah mulai dirintis pada zaman Renaissance.
Sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan  diri dari filsafat, namun psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat, bahkan ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafatpun tetap masih ada hubungan dengan filsafat, khususnya filsafat ilmu, terutama mengenai hal-hal yang menyangkut sifat, hakikat, serta tujuan dari ilmu pengetahuan itu,  (Ahmadi, 1998:28-29). Dengan demikian, maka akan dapat dianalisa lebih lanjut tentang aktualitas filsafat ilmu dalam perkembangan ilmu pengetahuan sebagai landasan filosofiknya, khususnya psikologi, baik dalam hal ontology, epistemology, maupun aksiologinya.  

Hubungan Psikologi dan Filsafat
a.      Psikologi dan filsafat dalam memandang ilmu alam dan supranatural
      Psikologi merupakan suatu cabang ilmu yang membahas tentang manusia. Bagi orang awam,  tak jarang kebanyakan mereka menganggap psikologi merupakan ilmu perdukunan atau sebuah ilmu yang berbau supranatural seperti : dapat membaca pikiran, meramal dan lain sebagainya.
      Sedangkan filsafat sendiri banyak membahas tentang refleksi-refleksi terhadap alam dan segala fenomena yang hadir disana.
      Dalam menjelaskan fenomena ilmu alam (ilmu pengetahuan atau sains)  psikologi dan filsafat memiliki pandangan yang  dapat dikatakan berbeda.
Pandangan secara psikologi
Dalam menjelaskan fenomena sains dan supranatural,  psikologi memiliki perbedaan, pembahas yang bermacam-macam. Hal ini salah satunya adalah dikarekan  factor kultur, sehingga dalam menjelaskannya ada perbedaan secara individual yaitu berdasarkan pengalamannya selama individu tersebut berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh perbedaan terlihat dalam memaknai sebuah fenomena supranatural. Misalnya saja di Indonesia mengangap sapi itu adalah hewan biasa saja, sedangkan di India sapi dianggap sebagai hewan suci yang dapat memberikan berkah kepada mereka dan tak boleh disembelih. Alasan  lain mengapa terjadi perbedaan dalam membahasnya adalah karena beberapa daerah dihubungkan dengan emosi yang kuat dan dominannya kecemasan yang hadir. Yaitu tentang pemahaman tetang diri kita, hubungan dengan orang lain , pemikiran tentang kematian dan perasaan kehilangan dan moral Sehingga pada  ahirnya untuk membahas tentang sains dan  supranatural adalah bersifat informative karena pengalaman kita sehari-hari yang terus berubah
         Perkembangan data cultur berdasarkan konteks yang kuat akan mempengaruhi penjelasan sains sebab akibat, dan penjelasan supranatural akan mempengaruhi sifat ketuhanan atau religiusitas karena digunakan oleh individu yang sama dengan persepsi yang sama dalam menjelaskan  sebuah fenomena.
         Setiap orang memiliki tiga perbedaan dalam menjelaskan suatu fenomena yang sama yang berubah-berubah  dan yang kemudian disatukan. Caranya yaitu dengan target-dependen thinking, synthetic thinking dan integrated thinking.
         Dalam target-dependen thinking ini penjelasan tentang supranatural dijelaskan dengan berbagai aspek yang berbeda. Sedangkan dalam synthetic thinking  menggunakan dua gaya untuk menjelaskan aspek yang sama dari sebuah fenomena. Dan dalam integrated thinking dalam menjelaskan sebuah fenomena menggunaka dua atau berbagai jenis pemikiran yang kemudian akan disatukan.
Pandangan menurut filsafat
Dalam  literatur filsafat dan teologi menemukan berbagai jenis jalan dalam memandang hubungan antara ilmu pengetahuan dan religiusitas (bersifat supranatural). Menurut barbou (dalam ……..) ada 4 jenis hubungan antara ilmu pengetahuan dan religiusitas , macam-macamnya antara lain : total conflik, independence, diaoluge, dan integration.
         Total conflik menjelaskan bahwa tidak mungkin untuk menyatukan  persepsi dalam menjelesankan kehidupan religiusitas dan kehidupan yang berdasarkan pengetahuan. Tidak hanya isi dari keduanya yang nyaris overlap dengan sempurna, namun karena kepercayaan dari keduanya  yang kontradiksi
         Secara independen, pandangan ini berseberangan dengan moden total conflik dan claim yang percaya bahwa religiusitas dan pengetahuan dapat hidup bersama, karena pada dasarnya kedua hal ini memliki prinsip yang berbeda. Argumen dalam pandangan ini bisa jadi berbeda-beda sehingga dapat terdiri dari berbagai jalan pikiran.
         Sedangkan menurut reconciliation,  meskipun isi dari religiusitas dan pengetahuan saling overlap, tapi meskipun demikian mereka hidup bersama, bediri dalam pijakan atau hal sama.  Area-area yang overlap dalam kedua hal tersebut dapat terdiri dari hal yang bisa menimbulkan conflik dan bahkan harmoni
Berdasarkan pandangan tersebut seolah psikologi dan filsafat memiliki pekiran yang berbeda dalam memandang sebuah fenomena supranatural dan ilmu alam.  Tapi kedua cabang ilmu  ini dapat bersatu dalam membahas beberapa hal salah satunya adalah rasionalitas
Rasionalitas adalah merupakan topik yang penting ketika kita berdiskusi untuk membahas hubungan psikologi dan filsafat dalam menjelaskan tentang data hidup bersama. Kesamaan antara keduanya terletak pada penggalian data yang berdasarkan norma dan realitas psikologi yang komples. Coexistence atau hidup bersama akan membenarkan status tentang keadilan. Penambahan supraturan oleh manusia dalam memandang kehidupan  juga tidak dapat dipisahkan dari alam dan alasan  yang berdasarkan ilmu pengetahuan.
b.      Psikologi dan Filsafat berbicara tentang moral
        Dalam pelaksanaannya, psikologi dapat dikatakan  mengutamakan realitas atau berdasarkan empirisme. Setiap teori yang dimunculkan harus telah dilakukan penelitian sebelumnya. Dan salah  satu penelitian dalam cabang ilmu psikologi adalah penelitian  kognitif.
        Namun  penelitian kognitif ini dalam pelaknaannya dengan menggunakan metode psikologi tak jarang menghasilkan hasil penelitian yang bertentangan dengan moral sehingga menimbulkan dilema moral. Biasanya mekanisme psikologis yang ada akan dibandinghkan atau di sejajarkan dengan perdebatan filosofis teori moral yang berdeda-beda.
        Dalam psikologi sendiri memiliki beberapa jenis  moral, dimana masing-masing moral tentu saja memiliki tinjauan filosofi yang berbeda-beda . Berikut ini adalah beberapa jenis sitem moral dalam psikologi yang menarik untuk dilihat filsuf moral yang antara lain :

1.      The trolley problem
Poin utama dari penelitian dalam moral psikologi adalah  trolley problem. Dimana dalam sebagian penelitian menganggap bahwa sebuah norma dapat diterima ketika mengarahkan trolley dari yang awalnya lima korban menjadi satu korban tetapi norma tidak akan dapat di terima ketika dalam penelilitian yang awalnya memakan satu korban menjadi lima koraban. Pola ini konsisten dalam  range biologi dan cultur yang beraneka ragam
Genre dkk (dalam ……..) telah menyarankan beberapa karakteristik pola dari aktifasi otak   yang  jelas mencerminkan dua proses psikologi dari judgment moral : yaitu sebuah sistem kognitif  yang baik bagi kesejahteraan dan sebuah sistem afeksi yang melarang tindakan yang mempengaruhi fisik secara langsung pada individu tertentu. Diaknosis mereka untuk masalah dari respon standar pada masalah kegilaan (trolley) adalah bahwa kasus menjadi gagal untuk mengaktifkan sistem afeksi, sedangkan kasus dorongan yang kuat dapat mengaktifkan itu.  Kritiknya seperti “ tangisan bayi” dilema, ada dua proses yang terjadi disana. Proses apapun yang lebih kuat diaktifkan dan menentukan judment ahir . Menggabungkan dua sistem ini, pola aktivasi otak dalam kasus ini mencerinkan konflik kognitif
Sebuah interpretasi alami dari dari dua sistem bahwa salah satu akan menghasilkan pola penilaian yang sesuai dengan aturan deontolgis (tidak boleh merugikan individu manapun) sementara yang lain alas an konsekuense yang eksplisit. Selain itu dua sistem penilaian moral memberikan penjelasan alami untuk pengalam fenomenologis yang berhubungan dengan dilemma moral seperi kasus bayi menangis. Dilema semacam ini menimbulkan penilaian yang berbeda  yang pada ahirnya mengakibatkan konflik kognitif

2.      Moral  Lucky
Sebuah data akan  memberi gambaran yang lebih lengkap dari dua proses judment moral yang mungkin bekerja di kasus keberuntungan moral. Yaitu sebuah proses yang  mengevaluasi niat dan output penilaian kebolehan moral, dan proses yang relatif lebih sensitif terhadap konsekuensi dan output penilaian hukuman.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak memiliki konsepsi awal moralitas yang berpusat pada konsep hukuman, dan sensitif terutama untuk informasi tentang konsekuensi perilaku. Pada tahun-tahun awal sekolah dasar pergeseran terjadi dimana  anak mulai memahami moralitas dalam hal tugas, hambatan , dan timbal balik, dan menjadi lebih sensitive informasi tentang niat yang mendasari perilaku. Tampaknya kedua tahap perkembangan mungkin mencerminkan sebuah rancangan yang mendasari kognitif  mana yang berbeda dari proses mana yang berperan.
            Meskipun penelitian 'keberuntungan moral "dan ketidaksesuaian antara niat dan konsekuensi  masih dikembangkan, gambar yang muncul sejajar dengan kasus yang lebih baik dikembangkan dari utilitarian vs moral deontologis. Ada bukti ada peran proses psikologis yang berbedada, bahwa kadang-kadang dapat menghasilkan output yang berbeda, dan moral yang penilaian kadang-kadang hasil dari persaingan antara proses-proses tersebut.
Sehingga pada ahirnya teori-teori moral yang ada menimbulkan beberapa dampak antara lain :
1.                  Sistem psikologi dari kepuutusan moral
Konflik antara mekanisme penilaian moral muncul ketika beberapa kondisi terpenuhi. Pertama, mekanisme masing-masing dapat ditandai dengan aksioma yang berbeda. Kedua, mekanisme menghasilkan penilaian yang berlawanan dalam kategori yang identik, seperti permintaan normatif pada tindakan atau keputusan tanggung jawab. Ketiga, tuntutan dan penilaian perilaku yang dihasilkan oleh masing-masing mekanisme secara inheren dan tidak dapat ditawar- ini tidak mendukung kesimpulan tertentu tapi lebih kepada meminta sebuah kesimpulan
2.                  Konflik dengan individu
Salah satu fungsi keputusan moral adalah untuk membimbing penalaran praktis, dan untuk tujuan ini perlu untuk memilih beberapa dari penilaian moral yang ada.  Tapi tetap ada beberapa alassan untuk tetap menyadari bahwa sebuah dilemma moral adalah salah satu kategori moral yang mendasar, meskipun pada ahirnya kita harus memutuskan sebuah tindakan. Hal tersebut dapat mendorong kita untuk dapat bersimpati dan mendukung serta tidak mencela apapun yang dipilih oleh seorang individu.  Penunjukkan harga hamya sejauh pengalam kehidupan sehari-hari, didukung oelh penelitian psikologi yang empiris dan tercampum dalam literature filsafat, yang secara empiris didukung oleh psikologis
3.                  Konflik dengan teori
Sebuah hipotesis dari sebuah studi memiliki beberapa kemungkinan. Yang pertama adalah pilihan kesediaan  pada filsuf untuk mengembangkan ilmu “mumi” dari teori filsafat yang formal baik deontology maupun konsekuensi dari mekanisme psikologi.
Kedua, adalah pilihan kesediaan pada filsuf untuk mengembangkan “indeterminansi” teori filsafat – teori berdasarkan data lapangan dan bukan judmen pada case dimana psikologi sebagai sistem konflik, tetapi melakukan keputusan berdasarkan data lapangan dimana psikologi sebagai sebuah argument. Ketiga adalah kesediaan filsuf untuk mengembangkan 'hybrid' teori filosofis yang   trade off antara tuntutan sistem psikologis yang berbeda.
c.Filsafat dan Psikologi dikaitkan dengan pikiran dan kognisi
Pada ahir abad ke-19 dan awal abad 20, para psikolog hanya sedikit mengambil bagian dari filsafat yakni tentang pikiran dan kognisi. Namun hal ini berubah stetelah 30 tahun terahir, yakni dengan kecerdasan buatan, antropologi kognitif dan, linguistic dan ilmu syaraf, telah membuat psikologi dan filsafat berjalan di jalan yang sama. Filfuf psikolog bahkan telah dapat berkontribusi membuat karya ilmiah tentang kedua disiplin ini.
Prediksi tentang gambaran mental adalah pusat utama dari dalam  ilmu kognitif . Manusia tidak melakukan sesuatu yang sederhana atau hanya reflek saja terhadap lingkungan mereka di bekali dengan beberapa internal, mediasi mental, dan semacam perlengkanpan atau mesin yang sensitive terhadap lingkungan tetapi sangat kompleks dalam menggagalkan usaha.
Representasi mental bekerja seperti peran mediasi, diamana ia mengandung informasi tentang dunia kemudian digabungkan yang pada ahirnya akan memandu perilaku seorang individu
Isi dari representasi mental terdiri dari konsep peran atau prosedur semantik, teori kausal atau informasi dan teori teologi


DAFTAR PUSTAKA
Cristine H. Legare &Aku Visala. 2011. Between Religion and Science: Integrating Psychological and Philosophical Accounts of Explanatory Coexistence. University of Texas at Austin 1 University Station
Fiery Cushman & Liane Young. 2009. The Psychology of Dilemmas and the Philosophy of Morality. Cambridge : Massachusetts Institute of Technology.
Sutatminingsih, Raras. 2002. Aktualitas Filsafat Ilmu Dalam Perkembangan Psikologi. USU digital library
Wison, Robert A. 2005. Philosophy Of Psychology. New York: Routledge Press.


KERANGKA TEORI DAN SISTEMATIKA KONSELING


            Jika dilihat dari sejarah perkembangannya, tidak ada satu sistem yang dominan yang mengatur konseling.
            Pada ahir tahun 1940-an, para profesional menyadari kelemahan dari sistem konseling. Robet Mathewson (1949) mengamati bahwa konseling “sedang berada pada pencarian sebuah sistemuntuk membebaskan diri dari ketidakcukupan kerangka yang dipinjam dari filosofi dan pendidikan tradisional, dari psikologi, dari formulasi politik yang mendasari pemerintahan yang demokratis, dari konsep sains dll”
            Sampai ahir 1940-an, konseling menggunakan berbagai macam sistem. Karena profesi tersebut tidak memiliki basis organisasi, bermacam kelompok mendefinisikan apa yang mereka lakukan berdasarkan sistem yang paling cocok  dengan diri mereka. Kompetesi di antara berbagai macam sudut pandang khususnya yang berhubungan dengan teori sering sangat seru. Beberapa konselor menyadari perlunya sebuah pendekatan sistematik yang bisa menyatukan dalam disiplin mereka, tetapi perkembangan profesi yang tidak terencana terbukti menjadi hambatan besar. Meskipun begitu, pada tahun 1990-an telah muncul beberapa sistem konseling, dua yang paling dominan adalah ancangan perkembangan/ kesejahteraan dan rancangan medis/ patologis.
A.    Ancangan Perkembangan atau kesejahteraan
Konseling dari perspektif ini didasarkan pada apakah masalah yang dihadapi klien itu berdasarkan tugas pengembangan kehidupan. Perilaku yang sesuai pada suatu tahap kehidupan tertentubelum tentu sesuai pada tahapkehidupan lainnya.
Allen Ivey (1990) menyarankan untuk menerapkan konsep Piagetian dari tingkat kognitif (sensori motorik, konkret, formal dan pasca formal). Oleh karena itu apabila klien pada mulanya tidak menyadari perasaan mereka sendiri, konselor akan bekerja mulai dari tingkat sensorimotor untuk memunculkan emosi kliennya. Dengan cara yang sama, klien yang tertarik merencanakan strategi perubahan akan dibantu melalui formal pikiran.
Sedangkan dalam perspektif kesejahteraan, individu dipandang mempunyai sumberdaya untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi secara praktis dan sesegera mungkin. Contoh dari pendekatan konseling yang di dasarkan pada model kesejahteraan adalah solution focused theory. Contoh lain pendekatan kesejahteraan masa kini dan mendatang adalah Stress Inoculation Training (SIT) (Meichenbaum, 1993), sebuah intervensi yang bersifat proaktif dan psikoeducational yang dapat digunaka disekolah maupun untuk orang dewasa. (Israelashvili, 1998). Pada model ini seorang individu untuk memahami situasi dari permasalahan mereka, mendapat keahlian untuk mengatasi masalah tersebut, dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menghadapi peristiwa-peristiwa di masa kini dan masa depan, melalui penggunaan imajinasi atau latihan simulasi.
Inti dari pendekatan perkembangan atau kesejehateraan ini adalah menekankan pada tindakan preventif dan edukatif.
B.     Model medis atau  patologis
 Berlawanan dengan ancangan konseling perkembangan adalah model medis atau patologis  dari manusia yang diwakili oleh mereka, yang mendasarkan rencana perawatan sesuai dengan Diagnostic and Stastical Manual of Mental Disorders (DSM) (American Psychiatric Association, 2000). DSM ini sesuai dengan manual International Classification of Diseases (ICD-10), yang diterbitkan oleh WHO, dalam menyusun pengelompokan  gangguan psikiatri.
Fitur unik dari sistem DSM sejak tahun 1980 adalah penggunaan lima sumbu (poros) untuk menjelaskan diagnostic klien.
·         Sumbu I : mencakup sindrom klinis dan kondisi lain yang mungkin menjadi focus perhatian klinis utama. Hal tersebut biasanya dianggap sebagai sumbu tempat klien menyampaikan masalah  dan munculnya diagnosis utama.
·         Sumbu II : Memuat informasi diagnosis tentang gangguan kepribadian dan keterbasan mental.
·         Sumbu III : Menggambarkan informasi mengenai kondisi medis klien secara umum, misalnya sakit kronis
·         Sumbu IV : Memuat informasi mengenai masalah-masalah psikososial dan lingkungan yang dapat mempengaruhi diagnosis, perawatan, dan prognosis dari gangguan mental, seperti tidak punya teman dan rumah tidak layak
·         Sumbu V : Memberikan Global Assesment of Relational Fungtioning (GARF) untuk klien dengan skala 0-100 (Ginter,2011). Semakin tinggi skornya, berarti semakin berfungsi baik. Penilaian tersebut dapat berhubungan dengan masa lalu maupun masa kini.
Ketika semua sumbu digabungkan, hasilnya mungkin seperti berikut :
·         Sumbu I   : 305.00; kecanduan alcohol, moderat.
·         Sumbu II  : 317.00; cacat mental ringan
·         Sumbu III : Sakit kronis
·         Sumbu IV : bercerai, menganggur, tidak punya teman
·         Sumbu V  : GARF = 40 (saat kini)
Secara keseluruhan, DSM merupakan sebuah model yang sangat menarik tetapi juga controversial (Erikson & Kress, 2006; Hinkle, 1994; Lopes et al., 2006). Model tersebut ateoretis dan mengkotakkan gangguan mental sebagai disposisional. Masalah-masalah sosial seperti  rasisme, diskriminasi, patriarki, homophobia dan kemiskinan “tidak teruraikan dalam focus DSM pada gangguan yang berakar pada diri seseorang” (Kress, Eriksen, Rayle & Ford, 2005, p.98). Lebih jauh DSM secara subtansial tidak berhubungan dengan apapun, kecuali diagnosis individual, yang sebagian besar parah. Oleh karena sistem klasifikasi ini terbatas kegunaannya untuk konselor kelompok, perkawinan dan keluarga, dan konseling profesional yang tidak bekerja dengan populasi yang snagat terganggu, atau yang bekerja dari orientasi humanistic. Meskipun begitu, DSM –IV-TR terorganisir secara logis dan memiliki jejaring “pohon “  keputusan yang baik (untuk mengetahui klasifikasi DSM-IV-TR)
Konselor jangan bersikap naïf terhadap keterbatasan DSM atau alternatifnya yang telah didiskusikan secara komperhensif oleh Eriksen dan Kress (2006). Bagaimanapun juga seyogyanya mereka menguasi terminology DSM, telepas dari latar belakang, spesialisasi, dan bahkan setuju tidaknya mereka dengan sistem klasifikasi ini, demi alas an berikut :
1.      Sistem DSM dipergunakan secara universal oleh profesi penolong lainnya dan menjadi basis dialog bersama, antara konselor dengan spesialis kesehatan mental lainnya
2.      Sistem DSM membantu konselor mengenal pola gangguan mental pada klien yang perlu dirujuk ke professional kesehatan  mental lainnya, atau dirawat dengan cara-cara tertentu
3.      Dengan mempelajari sistem DSM, konselor membentuk akuntabilitas , kredibilitas, keseragaman pengelolaan data, rencana perawatan berbasis informasi, penelitian dan jaminan kualitas




Definisi Konflik

Definisi konflik
a.       Menurut Robet M.Z. Lawang, konflik diartikan sebagai perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti nilai, satatus, kekuasaan dsb, yang tujuan mereka berkonflik tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya. Konflik dapat diartikan sebagai benturan kekuatan dan kepentingan antara satu kelompok dan kelompok dan kelompok yang lain dalam proses perebutan sumber-sumber kemasyarakatan (ekonomi, politik, sosial, dan budaya) yang relative terbatas.
b.      Menurut Kartono, konflik merupakan proses sosial yang bersifat antagonistic dan terkadang tidak bisa diserasikan karena dua belah pihak yang berkonflik memiliki tujuan, sikap, dan struktur nilai yang berbeda, yang tercermin dalam berbagai bentuk perilaku perlawanan, baik yang halus, terkontrol, tersembunyi, tidak langsung, kamuflase maupun yang terbuka dalam bentuk tidak kekerasan
Sebenarnya terdapat banyak definisi konflik. Meskipun makna yang diperoleh dari definisi-definisi tersebut berbeda, tapi ada tema tema umum yang mendasarinya. Konfik harus dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat, apakah konflik itu ada ataupun tidak ada merupakan sebuah persepsi.  Jika tidak ada yang menyadari adanya konflik, secara umum disepakati  bahwa konfik tidak ada. Kesamaan lain dari definisi-definisi  tentang konflik adalah adanya pertentangan atau ketidakselarasan dan bentuk-bentuk interaksi. Dan kondisi ini menjadi titik awal dari sebuah konflik.
      Jadi dapat didefinisikan secara umum konflik adalah sebuah proses yang dimulai ketika satu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif atau akan mempengaruhi secara negatif sesuatu yang menjadi perhatian dan kepentingan pihak pertama



DAFTAR PUSTAKA
Stephen P. Robbins & Tomothy A. Judge.2008.Perilaku Organisasi, Edisi 12.Jakarta:Penerbit Salemba Empat.

Waluya, Bagja.2007.Sosiologi : Menyelami fenomena Sosial di Masyarakat.Bandung:PT Setia Budi Inves