Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 September 2017

USIA DEWASA, APAKAH ITU?



Dewasa, apa itu dewasa?
Dewasa bukan tentang fisik yang bertumbuh tinggi dan berkembang. Dewasa adalah tentang kematangan pemikiran dan kebijaksanaan.
Sebuah organisasi dengan output yang luar biasa dan tak perlu diragukan lagi, ternyata memiliki SDM yang nyaris brobrok. Bobrok bukan karena kualitas mereka yang buruk, namun bobrok karena mengalami kelelahan karena beban kerja yang dituntut hasil  sempurna. Sempurna bukan dalam artian terbaik dan berkualitas, tapi sempurna menurut idealisme sang pemimpin. Yang dengan berprinsipkan “harus beda”. Beda itu bagus bahkan sangat bagus , namun kalau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi, bagaimana pendapatmu? Sesuatu yang terlalu dipaksakan kadang kurang baik.
Apakah organisasi yang demikian merupakan sebuah organisasi yang sehat? Output luar biasa namun SDM dituntut seolah kerja rodi. Sama seperti para buruh di china, mereka dintutut kerja banyak, dengan upah yang tak sebanding, dan output pun yang dituntut juga tak sedikit.
Stress kerja itulahyang terjadi. Namun ketika sang leader tak mau tau urusan stress kerja dll SDM nya, apa yang harus dilakukan oleh organisasi tersebut??

Kamis, 10 Agustus 2017

PEMIMPIN MUDA ( KEPUTUSAN BIJAK DAN KEPUTUSAN BENAR)

KEPUTUSAN BENAR DAN KEPUTUSAN BIJAK
          Dalam hidup, kita sering dan  pasti mendapatkan masalah. Dalam menghadapinya kita dituntut untuk dapat membuat keputusan yang tepat untuk menghadi situasi yang ada. Kita yang berusia muda, masih fresh dengan teori dan minim pengalaman, sering kali mengambil keputusan berdasarkan idealisme semata. Keputusan yang diambilnya didasarkan pada pertimbangan berdasarkan referensi yang dibacanya. Baik itu tips-tips atau trik-trik misalnya pembelajaran yang efektif. Semua ide yang dibaca tersebut tidaklah salah, semua masuk akal dan sangat mngkin diterapkan. Namun, karena idealisme yang terlalu tinggi, mereka cenderung mengesampingkan perasaan. Terlebih bagi seseorang dengan sifat perfecsionismenya. Keadan ini akan semakin terasa sulit jika dimiliki oleh seorang leader.
          Seorang leader yang memiliki sifat demikian, memang sangat bagus dan luar biasa dalam membuat strategi untuk membangun sesuatu, entah sebuah sistem, program maupun hal lainnya. Output yang dihasilkan pun luar biasa. Namun karena orientasi yang berlebihan pada output, terkadang mereka melupakan bawahannya. Sang leader sering kali memaksakan anak buahnya untuk bekerja sesuai keputusan yang dibuatnya (didasarkan pada referensi yang dibaca), possible menurut buku dan keyakinannya, namun terkadang imposible bagi bawahannya.
          Sering kali dibuku dan dilapangan memiliki kondisi yang berbeda. Buku hanya memuat  kondisi indealis saja.Llingkungan, pelaku, situasi dan kondisi diasumsikan sempurna. Sementara dilapangan kita bisa mengalami berbagai macam situasi dan kondisi yang mengejutkan. Sehingga terkadang antara teori dan praktek itu beda jauh.
          Kembali leader muda, idealis dan  perfecsionis, dalam membuat keputusan tidak mempertimbangkan bagaimana perasaa, kondisi dan energi yang dimiliki bawahnnya. Mereka menuntut bawahannya selalu produktif dan sempurna seperti dirinya. Padal kondisi dan energi setiap orang berbeda.
          Sementara itu leader dengan usia yang lebih matang, mereka memang tidak seernergik leader muda, mereka mengetahui keputusan yang benar namun mereka tidak mengambil itu karena mereka lebih bijak dengan memikirkan bagaimana kondisi dan energi bawahannya.
          Jika  bawahan  masih menerima  keputusan tersebut, that is ok. But, bagaimana jika bawahan-bawahan tersebut meningkalnya karena lelah dengan keputusan yang ada?
Just my opinion, n everyone has different opinion
          

Rabu, 16 Desember 2015

Mengapa harus jurnal Internasional?

Tulisan ini dibuat oleh orang yang lagi patah hati sama orang yang pnter banget

Pertanyaan ini sudah sangat lama muncul di kepalaku. Sejak dulu.

Dalam membuat skripsi atau apapun itu lah? Mengapa harus jurnal internasional?
Kebanyakan jawabannya adalah karena jurnal internasional terakreditasi, metodenya bagus dll. Tapi... tapi.. kan mereka meneliti bangsa mereka sendiri, katakanlah bangsa barat.

Hal ini aku ingin curhat tentang skripsoi di bidang psikologi. Yah.. kenapa aku bahas ini karena selain aku g bisa bahasa inggris dan skripsiku dituntut nyari jurnal international. Tapi..tapi aku mikir, jurnal mereka meneliti tentang dinamika emosi masyarakat barat. Misalnya kepercayaan diri mempengaruhi kemampuan adaptasi, atau dari beberapa kriteria (aspek)kepercayaan diri ternyata keseluruhan subjek memenuhi semuanya. Tapi itukan dinamika emosi yang terjadi di barat. Dan tentu dinamika emosi barat dan Indonesia khususnya. Cara berpikir anak remaja barat dengan indo akan sangat berbeda. Dan terlepas dari metode dll, jurnal atau skripsi di Indo lebih pas sebagai rujukan karena dinamika emosi amupun budayanya akan sama.

Tapi.. g tau lah.. aku hany mikir secara psikologis dan sosio emosi antara orang barat dengan indonesia akan berbebeda. karena budaya atau pola asuh dua tempat ini juga beda.

Ah sudahlah ini ngomomg apa. ngawur ngalor ngidul, maklum lagi patah hati karena dosen pembimbing yang pilih kasih...

mungkin ada pendapat lain?