Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2015

PSIKOLOGI BERMAIN : CARA MEMBUAT ALAT UKUR VALIDITAS DAN RELIABILITAS MAINAN

PSIKOLOGI BERMAIN

Apakah permainan ini aman atau tidak bagi anak-anak?
a.       Ya                                                       b. Tidak
Apakah permainan ini sesuai dengan untuk anak usia 5 tahun?
a.       Ya                                                       b. Tidak

Kritik
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Saran
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………............


Riview jurnal Konseling anak berbakat : “Counselling Issues of Gifted Students Attending a School Holiday Residential Program: A Malaysian Experience”

Review jurnal Psikologi Pendidikan Anak Berbakat
“Counselling Issues of Gifted Students Attending a School Holiday Residential Program: A Malaysian Experience”

Pendahuluan
Di Malaysia terdapat program pengembangan anak gifted dengan berbagai tujuan holistiknya, diantara tujuan tersebut adalah untuk mengembangkan program pendidikan yang komprehensif yang akan bertanggung jawab untuk mendorong pertumbuhan positif siswa gifted, dalam hal aspek fisik, emosional, spiritual, intelektual dan social. Bentuk dari program ini adalah dengan program percepatan pendidikan untuk siswa tingkat menengah. Namun, disisi lain program ini kurang memperhatikan solusi dimana usia siswa yang terlalu muda saat menempuh pendidikan (belum seharusnya SMA tapi sudah SMA). Dan selanjutnya muncul program yang berguna untuk  mengakomodasi pembelajaran, social dan emosi anak gifted tersebut dalam sebuah UU.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak gifted mengalami masalah yang berkaitan stress, emosi yang tidak stabil, sensitif, merasa terisolasi, perfeksionisme, dan kesulitan social, maka anak-anak tersebut membutuhkan dukungan psikologis dan sosio-emosi yang sistematis dimana salah satu jalannya adalah dengan konseling
Metode penelitian
Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan desain analisis dokumen. Dokumen pertama adalah Insiden Kritis dan Medis Laporan Form (CIMR) yang digunakan oleh salah satu administrasi / pengajaran / staf perumahan untuk melaporkan segala jenis pengamatan / keluhan mengenai mahasiswa tertentu. Dokumen kedua adalah Form Sesi Konseling yang digunakan oleh konselor akademis untuk merekam informasi yang diperoleh selama sesi.
Selanjutnya kedua CIMR dan Konseling Sesi bentuk dikumpulkan dan dibandingkan, untuk memetakan masalah siswa berbakat dan kebutuhan konseling di Malaysia. Yang selanjutnya data tersebut akan diterjemahkan secara deskriptif
Hasil
Penelitian ini merupakan penelitian pertama kali tentang konseling anak berbakat di Malaysia, sehingga tidak ada data pembanding sebagai patokan. Sedangkan hasilnya adalah dengan membandingkan CIMR dan sesi konseling dimana total 47 anak menghadiri kedua sesi tersebut. Dan juga mendapatkan hasil beberapa isu yang dialami oleh ke 47 siswa gifted tersebut. Isu-isu tersebut antara lain : home sick, relasi soial dengan sebaya, strss, cemas, depresi, halusinasi dan delusi, pengalaman pertama menstrulasi, issu tentang sikap, keinginan untuk bunuh diri
Diskusi
Dalam tabel pertama menunjukkan bahwa siswa perempuan yang memiliki masalah terkait siswa berbakat dan mereka lebih banyak menghadiri program PPPN dibandingkan siswa laki-laki. Hal ini juga sejalan dengan banyak penelitian lain bahwa perempuan lebih rentan  menghadapi masalah psikologis dan juga penelitian yang sejalan dengan penelitian ini lebih banyak yang berfokus pada perempuan.
Sedangkan tabel kedua menunjukkan bahwa masalah psikologis yang dihadapi oleh anak bernakat Malaysia juga tak jauh beda dengan masalah anak berbakat yang dihadapi oleh anak berbakat di negara lain. Tetapi temuan yang paling mencenangkan adalah isu bunuh diri, padahal hal ini sangat tabu untuk budaya di Malaysia.
Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya
Di Malaysia sendiri pembahasan mengenai masalah sosial-emosi anak gifted sudah banyak namun untuk pembahasan mengenai dukungan social emosi tersebut belum banyak. Sehingga ke depannya nanti diharapkan penelitian yang terkait anak berbakat di Malaysia untuk focus pada pada aspek-aspek seperti peran konselor sekolah untuk siswa berbakat, konseling karir untuk siswa berbakat, dan konseling bagi keluarga dengan anak berbakat

DAFTAR PUSTAKA
Bakar, A.Y.A & Ishak, N.M. (2010). Counselling Issues of Gifted Students Attending a School Holiday Residential Program: A Malaysian Experience. Procedia Social and Behavioral Sciences, 7(C) : 568–573



Jumat, 11 Desember 2015

ANALISIS KEBERBABAKAT KREATIVITAS SEORANG TOKOH BERDASARKAN PRINSIP 4P PRODUK (BARU, BERBEDA, LEBIH BAIK, BERGUNA)

PROFIL PENGUSAHA TEMPE MENTEGA
Muhammad Rusyad Isnadi merupakan pemuda yang berusaia 34 tahun. Ia merupakan orang yang sukses untuk menciptakan tempe mentega dimana omset penghasilannya adalah Rp. 400.000 perhari. Isnadi, warga Dusun Wiyoro, Baturetno, Banguntapan, Bantul, memulai usahanya setelah gempa dahsyat melanda wilayah Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) pada tahun 2006. Sebelumnya, ia malang melintang menjadi tenaga pemasaran bahan pokok ke pasar-pasar..
Analisis data dengan menggunakan 4 P
I.            Produk
Produk kreatif yang dihasilkan oleh isnadi adalah tempe mentega. Yang berawal dari ide konyol temannya untuk menambahkan mentega pada tempe, tetapi ahirnya ide tersebut membawa kesuksesan padanya. Respons pasar pun sangat positif. Permintaan terutama datang dari warung-warung makan di sekitar kos-kosan mahasiswa dan penjual gorengan.
a.       Baru
Produk yang dibuat oleh Isnadi ini memang ;termasuk dalam jenis tempe baru. Belum pernah ada sebelumnya jenis tempe mentega. Karena Isnadi sendiri awal membuat tempe mentega juga karena ide konyol dari temanntya
b.      Berbeda
Produk tempe buatan Isnadi memang berbeda karena karena ada Mentega ditambahkan saat proses peragian tempe. Berkat tambahan mentega, tempe kedelai Isnadi menjadi lebih gurih dan lezat. Dari segi harga juga lebih mahal dari tempe biasa, namun hal ini sama sekali tak menyurutkan minat pembeli untuk membeli produk isnadi ini
c.       Lebih baik
Tempe mentegaproduksi Isnadi ini menang lebih baik dari produk tempe kebanyakan. Karena ada tambahan mentega disana, membuat rasa tempe kedelai isnadi menjadi lebih gurih dan lezat
d.      Berguna
Tempe mentega ini ternyata menarik perhatian yang positif. Terbukti dengan harga yang meski lebih mahal dari tempe kebanyakan, tetap saja banyak peminat yang ingin membelinya. Hal ini juga yang membuat permintaan datang dari warung-warung makan di sekitar kos-kosan mahasiswa dan penjual gorengan.
                II.            Proses
a.       Preparation
            Isnadi merasa bosan Bosan menjadi tenaga pemasaran................. SELENGKAPNYA



DI  SINI

Contoh membuat Bab I Proposal Skripsi Kuantitatif

Hubungan antara locus of control dengan social loafing

Contoh proposal skripsi bab I


BAB I
1.1 Latar Belakang

      Mahasiswa menurut KBBI adalah orang yang belajar di Perguruan tinggi. Sedangkan pengertian mahasiswa menurut Suwono (dalam pengertian definisi mahasiswa menurut para ahli, 2012) adalah setiap orang yang berusia antara 18-30 tahun dan terdaftar resmi untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi negeri. Menjadi mahasiswa merupakan sesuatu yang tak jarang menjadi kebanggan baik bagi individu itu sebagai mahasiswa maupun keluarganya. Menurut data dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI) jumlah mahasiswa mahasiswa aktif di Indonesia 3.573.484. Saat ini untuk dapat menjadi mahasiswa lebih mudah dibandingkan dahulu karena adanya penawaran beasiswa baik untuk calon maupun yang sudah menjadi mahasiswa. Dalam salah satu jenis beasiswa pemerintah, yakni bidik misi pada tahun 2014 telah memberikan bantuan kepada lebih 60 ribu mahasiswa, sementara di tahun 2013 sebanyak 58.900 (Penerima Bidikmisi 2014 Capai 60 Ribu, 2014).

Seseorang yang telah diterima sebagai mahasiswa akan mengalami kehidupan yang berbeda dengan yang dijalani ketika saat masih sekolah. Masalah yang dihadapi juga lebih kompleks daripada sebelumnya. Dan tugas menjadi salah satu masalah yang dihadapi oleh mahasiswa dan bahkan dapat menimbulkan stress (Adnamazida , 2013).Dalam penelitian yang dilakukan oleh Bullare (2009) tentang “Sumber, strategi daya tindak dan stres yang dialami pelajar universitas” , masalah akademik menjadi salah satu dari subskala sumber stress yang memiliki korelasi positif dan siknifikan dengan stress yang dialami oleh mahasiswa. Hal ini ditunjukkan dengan hasil perhitungan korelasi person dimana sumber stress dari akademik memiliki nilai k < 0.1.

Tugas kuliah memang menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan sebagai mahasiswa. Berbagai tugas akademik hampir selalu diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya, baik berbentuk tugas yang dapat dikerjakan di rumah atau kos maupun tugas yang harus diselesaikan saat itu juga.Tugas-tugas yang diberikan oleh dosen tersebut ada yang bersifat individual maupun kelompok. Tugas yang bersifat individual cenderung lebih simple karena tidak perlu menyamakan persepsi dengan oranglain maupun mencari waktu untuk dapat berkumpul dengan lengkap. Tetapi, tugas individu memiliki kekurangan, yakni beban tugas  yang harus ditanggung lebih besar dari pada kerja kelompok. Dengan adanya tugas kelompok dapat meringankan beban dalam penyelesaian tugas. Karena dalam kelompok tersebut dapat terjadi saling tukar pikiran dan pendapat atau tugas tersebut dapat dibagi sesuai dengan keahlian masing-masing. Dengan demikian jika secara individu beban tugas terasa sangat berat,maka akan terasa ringan jika tugas dikerjakan secara kelompok karena beban yang ada ditanggung oleh beberapa individu. Namun, dalam mengerjakan suatu tugas kelompok tidak selalu semua bekerja secara optimal, ada beberapa yang memiliki kontribusi hanya sedikit dalam kelompok.       Fenomena kurangnya keterlibatan seseorang dalam kelompok disebut sebagai social loafing . Secara teori social loafing menurut Williams &Karau (1993) yaitu ketika seseorang  cenderung lebih mengurangi usaha dan motivasi saat tugas kelompok dari pada saat tugas individu. Social loafing yang terjadi dalam suatu kerja kelompok bisa dalam bentuk salah satu anggota yang tidak berperan apapun atau pelimpahan pekerjaan bagiannya kepada orang lain. Social loafing memang tidak saja terjadi di lingkungan kerja seperti kantor semata, fenomena satu ini juga dapat terjadi di lingkungan kampus. Beberapa mahasiswa yang berhasil diwawancarai mengatakan bahwa mereka menemukan fenomena social loafing ini.
Subjek 1 : “Iya, mesti seperti itu. Bahkan ada satu dua orang yang tidak berperan sama sekali juga ada.”

Interviewer : “Apakah pernah menemui fenomena social loafing ketika di kampus?”
Subjek 2      : “Iya pernah”

Interviewer :  “Pernahkan kamu melihat menemui fenomena social loafing ketika melakukan kerja kelompok?”
Subjek 3        :“iya sering. Misal anggotanya sibuk banget gitu ya. Padahal udah dibagiannya, kamu dapat ini-ini tapi ternyata dia nggak ada kabar, dihubungin nggak bisa-bisa, sampai ahirnya deatline dan ahirnya yang ngerjain ya anggota yang lain.”
Mahasiswa yang berhasil diwawancarai tersebut  juga mengungkapkan adanya dampak dari social loafing yang mempengaruhi baik itu kinerja maupun anggota yang lain dalam kelompok. Pekerjaan tidak dapat dikerjakan dengan cepat karena masih harus menunggu satu orang. Pekerjaan yang dikerjakan dengan terburu juga sering kali mendapat ........    Selengkapnya dapat dilihat


 ----------- Contoh Bab I Proposal Skripsi Kuantitatif.<---------- p="">










Jumat, 17 April 2015

CONTOH ANALISIS KASUS PHOBIA

TUGAS PSIKOLOGI ABNORMAL
ANALISIS KASUS INDIVIDUAL
“FOBIA”



























Fobia merupakan salah satu gangguan kecemasan (anxiety disorder) yang terdapat dalam DSM IV-TR. Orang yang mengalami fobia akan cenderung mengalami ketakutan dan penolakan terhadap objek atau situasi yang tidak mengandung bahaya yang sesungguhnya (Psikologi Abnormal, 183). DSM IV-TR membagi fobia ke dalam dua jenis, yaitu fobia spesifik dan fobia sosial.
            Kriteria  fobia menurut DSM IV-TR :
-   Mengalami ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu oleh objek atau situasi.
-   Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
-   Orang yang mengalami fobia menyadari bahwa ketakutannya tidak realistis
-   Orang tersebut menghindari suatu objek atau situasi tertentu, atau mungkin dapat dihadapi namun dengan kecemasan yang intens

ANALISIS KASUS
1.                  Gambaran Kasus

Profil singkat subyek :
Nama                                       : X
Jenis kelamin                           : Perempuan
Usia                                         : 22 tahun
Gangguan abnormalitas          : Fobia

            Tadalah perempuan berusia 22 tahun dan memiliki ketakutan berlebihan terhadap semua jenis kucing, sekali pun menurut orang lain kucing tersebut lucu. Ketika kucing itu mulai mendekatinya, secara perlahan ia akan merasa cemas dan mulai kesulitan untuk bernafas. Semakin kucing tersebut mendekat, ia akan jadi panik kemudian berlari menjauhi kucing tersebut. Dan ketika kucing tersebut mendekatinya diam-diam dan bergelayut padanya, ia akan langsung berteriak dan berlari sejauh mungkin. Kemudian jantungnya akan berdebar kencang, gemetar dan berkeringat dingin. Oleh karena itu ia berusaha untuk sejauh mungkin dari kucing, bahkan ia mengatakan jika tidak akan pernah mau bersentuhan dengan kucing sekalipun itu dibayar mahal. 

2.         Etiologi
Ketakuatan Tterhadap kucing berlangsung sejak kecil, dirinya sendiri tidak tahu kapan pastinya ia takut terhadap kucing. Yang pasti ibunya Tjuga mengalami fobia dan selalu berusaha utuk menghindari kucing. Suatu hari Tjuga pernah melihat pamannya dicakar kucing pada bagian wajah dan menimbulkan luka, yang semakin membuat Tmerasa takut sekaligus benci terhadap kucing.
Etiologi yang dijelaskan oleh Tsesuai dengan etiologi fobia berdasarkan teori modeling dan behavioral. Menurut teori modeling, bahwa ketakutan juga dapat dipelajari dengan meniru reaksi orang lain. Dalam membentuk perilakunya, seorang anak akan lebih cenderung untuk meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Termasuk Tyas, yang tanpa disadarinya saat kecil sebenarnya ia meniru bagaimana ibunya merespon akan keberadaan kucing.
Sedangkan menurut teori behavioral yaitu melalui classical conditioning yang mengatakan bahwa seorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus netral (CS) jika stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara instrinsik menyakitkan atau menakutkan (UCS). Dan CS disini adalah kucing, sedangkan UCS-nya atau kondisi yang menyakitkan adalah kucing mencakar wajah pamannya sehingga membuat pamannya menjadi kesakitan. Sehinnga membuat Tjadi berpikiran negatif terhadap kucing.

3.         Gejala yang tampak
            Saya mengkategorikan kasus Tsebagai kasus fobia spesifik, karena ketakutan Tyang berlebihan hanya muncul saat bertemu obyek tertentu, dalam hal ini adalah kucing. Adanya objek yang menjadi stimulus fobia tersebut membuat Tketakutan, sehingga seketika itu juga memicu munculnya beberapa gejala, antara lain :
·                     Panik
·                     Merasa cemas
·                     Merasa sulit bernapas
·                     Jantung berdebar
·                     Berkeringat
·                     Gemetar
·                     Sangat ingin menghindar dari objek tersebut

4.         Diagnosis multiaksial

Aksis 1            :           F40.2 Fobia Khas (terisolasi)
Aksis 2            :           Z03.2 Tidak ada diagnosis gangguan kepribadian
Aksis 3            :           Tidak ada data
Aksis 4            :           Tidak ada data
Aksis 5            :           GAF = 75

5.         Intervensi
Ketakutan Tterhadap kucing hingga saat ini relatif menetap karena persepsinya yang negatif mengenai kucing. Karena itu, ada beberapa intervensi yang mungkin dapat membantu subyek mengurangi fobia yang dialaminya.

ü  Pendekatan Behavioral
Berdasarkan pendekatan ini, teknik modelling dan operant conditioning dirasa yang cukup sesuai dengan kondisi subyek. Pada teknik modeling, subyek dapat diperlihatkan cara orang lain menyikapi kucing yang mendekat padanya, bagaimana sebaiknya memposisikan diri, dan bagaimana memperlakukan kucing agar tidak marah (mencakar). Sedangkan pada operant conditioning, subyek dapat didorong untuk dapat mendekati objek nyata yang ditakutinya, dan diberi hadiah meskipun pendekatannya pada objek tersebut sangat minim.

ü  Pendekatan kognitif
Dengan pendekatan ini, orang-orang di sekitar subjek dapat membantu subyek (ibunya juga bila perlu) untuk mengabaikan rasa takutnya dengan cara menghapuskan keyakinan irasional subyek yang berlebihan tentang kucing.
.





DAFTAR PUSTAKA


Davidson, G.C., Neale J.M., Kring A.M. (2006). Psikologi Abnormal (edisi ke-9). Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada
American Psychiatric Assosiation. (2000). American Psychiatric Assosiation : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Fourth Edition, Text Revision.Washington, DC.
HIMPSI. (1993). Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III.


FORM RESEARCH PROJECT

RESEARCH PROJECT
(Latar Belakang Penelitian)







Judul Penelitian
(Optional)
Proses Adaptasi Santri Mahasiwa Rantau di Perguruan 


Kata Kunci
Adaptasi, mahasiswa rantau, perguruan tinggi negeri, santri


Konteks Penelitian
Subjek adalah mahasiswa rantau yang dulunya selain bersekolah formal (SLTA) juga sambil mondok, dan saat ini sedang kuliah di Universitas XXXXX


Pertanyaan Penelitian
1.      Bagaimakah cara yang dilakukan oleh para santri untuk beradaptasi di lingkungan perguruan tinggi negeri?
2.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses adaptasi


Data yang diperoleh
1.      Siapapun dapat mendaftar untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi tanpa terkecuali, tanpa memandang latarbelakang siswa tersebut
2.      Informasi beasiswa kini semakin gampang untuk diakses informasisnya dan pendaftarannya juga lebih simpel dengan hanya mengisi formulir secara online dan otomatis akan langsung terdaftar. Tanpa kita perlu mendatangi tempat pemberi beasiswa untuk mengambil formulir kemudian menyerahkan kembali ke sana.
3.      Ternyata para santri juga memiliki antusias yang besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. Kementrian agama sendiri juga membuka kuota yang cukup banyak. Dan universitas-universitas yang ditawarkan juga termasuk dalam universitas unggulan
4.      Informasi yang diperoleh adalah santri ternyata juga mampu bersaing dan menunjukkan prestasi yang bagus di lingkungan kampus.
5.      Beasiswa ini mampu membuktikan dan mematahkan anggapan lama jika santri hanya pandai di pendidikan yang berbasis agama saja, tapi jika mereka diberi kesempatan mereka juga dapat berprestasi dalam sains dan teknologi, yang pada ahirnya nanti dapat membantu pengembangan pesantren di Indonesia





















Alur berpikir
(buat skema berpikir)

Flowchart: Process: Jalur masuk perguruanntinggi banyak Flowchart: Process: Akses informasi beasiswa makin mudah Flowchart: Process: Beasiswa dari Kementrian Agama
 



                                                                                              


 


                       
Flowchart: Process: Santri sekaligus menjadi mahasiswa rantau Flowchart: Process: Ada mahasiswa rantau dan putra daerah asli Flowchart: Process: Santri menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi
Flowchart: Process: Berhadapan dengan lingkungan dan budaya yang berbeda Flowchart: Process: - Lingkungan pondok dan kampus beda
- Budaya daerah asal dan daerah rantauan beda
Flowchart: Process: Penelitian gambaran proses adaptasi santri mahasiswa di perguruan tinggi negeri
 


































Daftar Literatur (Khususnya Jurnal Ilmiah yang diperoleh):


Aidilla, T ( 2015). Kemenag gelontorkan beasiswa buat ribuan santri di ptn unggulan. [on-line]. Diakses pada tanggal 30 Maret 2015 dari http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/15/03/26/nlsza3-kemenag-gelontor-beasiswa-buat-ribuan-santri-di-ptn-unggulan
Brisset,C. dkk. (2010). Psychological and sociocultural adaptation of university students in france: The case of vietnamese international students, 34. pp 413–426.
Chandrataruna, M & Rahadian, T. (2013). Cara masuk perguruan tinggi negeri tahun ini. [on-line].             Diakses pada tanggal 7 April 2015 dari http://nasional.news.viva.co.id/news/read/412022-3-cara-masuk-perguruan-tinggi-negeri-tahun-ini

Dinayanti, E. (2015). Akses santri meraih pendidikan tinggi berkualitas. [on-line].             Diakses pada tanggal 10 April 2015 dari http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/03/24/akses-santri-meraih-pendidikan-tinggi-berkualitas

Efendi, M.Y. (2009). Pola hidup santri dan peranannya terhadap sosial keagamaan (Studi kasus pada pondok pesantren Manba ul Ulum dusun Sukorembug Sidomulyo Batu). Malang : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Fuad, M.A. (2015). Menjadi santri di lingkungan kampus.  [on-line].             Diakses pada tanggal 10 April 2015 dari : http://kmnu.or.id/konten-22-menjadi-santri-di-lingkungan-kampus.html

 Jawahir, M. (2013). Pengaruh komunikasi interpersonal ketua program studi  terhadap proses adaptasi santri mahasiswa. [on-line]. Diakses pada tanggal 30 Maret 2015 dari http://nazariyyat.staimafa.ac.id/wp-content/uploads/2013/09/05-rubrik-artikel_Jawahir.pdf


Lee, J & Ciftci, A. (2013). Asian  international  students’  socio-cultural  adaptation Influence  of  multicultural  personality,  assertiveness, academic self-efficacy, and social support, 38. pp  97-105.
Rio (2012). Informasi beasiswa di jakarta semakin mudah diakses. [on-line]. Diakses pada tanggal 30 Maret 2015 dari http://www.jakarta.go.id/v2/news/2012/09/informasi-beasiswa-di-jakarta-semakin-mudah-diakses
Sebanyak 320 Santri Terima Beasiswa PBSB (2011). [on-line]. Diakses pada tanggal 7 April 2015 dari http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task=blogsection&id=9&Itemid=31
Winata, A. (2014).  Adaptasi Sosial Mahasiswa Rantau dalam  Mencapai Prestasi Akademik. Bengkulu ; Universitas Bengkulu.